Rawat Kepercayaan Publik, Senkom Solo Barat Gelar Diklat Jurnalistik PHMAL

GENERASINEWSINDONESIA.COM Sukoharjo — Dinamika era digital memaksa sebuah evolusi baru dalam dunia pengabdian masyarakat. Menjaga stabilitas kamtibmas kini tidak lagi cukup hanya dengan ketahanan fisik di lapangan, melainkan juga harus dibekali dengan ketahanan informasi berbasis fakta.

Langkah adaptif dan inovatif inilah yang diinisiasi oleh Senkom Mitra Polri Solo Bagian Barat. Sekat antara tugas pengamanan lapangan dan dunia literasi dilebur menjadi satu dalam Pendidikan dan Latihan (Diklat) Bidang Publikasi, Hubungan Masyarakat, dan Hubungan Antar Lembaga (PHMAL), Sabtu (6/6) malam.

Bertempat di Gedung Serbaguna Honggobayan, Pabelan, Kartasura, Sukoharjo, puluhan personel tegap berseragam Pakaian Dinas Lapangan (PDL) lengkap melatih jemari mereka di atas kibor untuk merangkai kata demi merawat kepercayaan publik.

Pelatihan ini menghadirkan Ghoni Iman AG, praktisi media sekaligus pengurus Bidang Publikasi Senkom sebagai mentor utama. Ruang pelatihan pun disulap menjadi laboratorium jurnalistik yang dinamis.

Ghoni membedah anatomi penulisan berita dengan menekankan bahwa setiap aksi relawan di medan sosial memiliki nilai berita (news value) yang tinggi, asalkan dikemas dengan standar jurnalistik yang kompeten dan manusiawi. Para personel digembleng untuk menguasai formula klasik 5W+1H dan memetakan struktur tulisan lewat metode piramida terbalik.

“Di era banjir informasi, kepercayaan publik (public trust) adalah mata uang tertinggi. Kepercayaan itu tidak dibangun dari opini subjektif atau narasi hiperbolis, melainkan dari kedisiplinan mengawal fakta lapangan,” ujar Ghoni di hadapan para peserta yang menyimak hingga larut malam.

Lebih dari sekadar teknik, pelatihan ini menekankan aspek etis: memisahkan fakta dengan opini, menjaga akurasi data, serta kewajiban melakukan verifikasi agar rilis organisasi tidak terjebak menjadi informasi mentah yang sekadar mengejar sensasi.

Sementara itu, Ketua Senkom Mitra Polri Kota Surakarta, Yusuf Erwansyah, A.Md., memberikan penegasan mengenai arah kebijakan komunikasi organisasi. Menurutnya, publikasi yang dikembangkan Senkom sama sekali bukan instrumen mekanis untuk mencari popularitas atau sekadar pamer kinerja (show off).

“Banyak aksi kemanusiaan, mulai dari pengamanan ibadah, mitigasi kebencanaan, hingga ronda menjaga ketertiban lingkungan yang langsung menyentuh masyarakat bawah. Jika itu semua dibiarkan sunyi tanpa dokumentasi yang baik, publik tidak akan tahu bahwa ada sistem pendukung (support system) yang selalu siap sedia di dekat mereka,” tutur Yusuf.

Yusuf memandang kemampuan literasi digital ini sebagai bagian dari investasi personal branding sekaligus peningkatan kompetensi pribadi setiap anggota. Personel di tingkat kecamatan didorong untuk mulai berani menulis laporan secara mandiri dari hal-hal paling sederhana di lingkungan sekitar mereka.

“Mulailah dari apa yang kita lihat dan lakukan di lapangan. Ambil foto kegiatan, tulis dengan bahasa yang jujur, sederhana, dan mudah dipahami oleh masyarakat luas. Dari situlah optimisme publik dan jembatan kemitraan dengan instansi lain akan terbangun secara organik,” tambah Yusuf.

Melalui Diklat PHMAL ini, Senkom Solo Barat mengirimkan pesan kuat tentang pentingnya melahirkan kader-kader relawan yang adaptif. Di tengah disrupsi informasi dan maraknya narasi negatif, para penjaga keamanan ini memilih turun tangan menjadi produsen berita positif yang mengedukasi masyarakat

Dari ruang pelatihan di Kartasura, sekelompok pria berseragam PDL ini membuktikan bahwa pena bisa sama tajamnya dengan tindakan di lapangan. Pengabdian sejati kini tidak hanya diwujudkan lewat kesigapan fisik saat krisis, tetapi juga melalui kemampuan merawat kebenaran informasi demi tegaknya harmonisasi sosial. (Rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *