JAKARTA – Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Memperingati Hari Veteran Nasional, Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Dakwah Islam Indonesia (DPP LDII) mengingatkan pentingnya merawat memori perjuangan agar generasi penerus tak kehilangan kompas moral dalam membangun masa depan.
DPP LDII, Prof. Dr. Singgih Tri Sulistiyono, M.Hum., menegaskan bahwa makna Hari Veteran Nasional tidak boleh berhenti sebagai agenda seremoni tahunan.
“Hari Veteran Nasional bukan sekadar peringatan rutin, melainkan panggilan moral agar bangsa ini tidak mengalami ‘amnesia sejarah’ dan melupakan mereka yang telah mengorbankan segalanya demi masa depan yang kita nikmati hari ini,” ujar Singgih, pada Minggu (9/8/).
Peringatan Hari Veteran Nasional sendiri ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 30 Tahun 2014, yang juga merujuk pada momen gencatan senjata di Surakarta pada 10 Agustus 1949. Momen ini menjadi pijakan sejarah yang sangat krusial dalam mengenang perjuangan mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Singgih yang juga merupakan Guru Besar Sejarah Universitas Diponegoro (Undip) menambahkan, meski bentuk ancaman zaman terus berubah, nilai dasar perjuangan tak pernah usai. Jika para pejuang terdahulu bertaruh nyawa menghadapi meriam dan peluru, tantangan generasi muda hari ini hadir dalam wujud yang berbeda di era digital.
“Ancaman bangsa hari ini sering kali tumbuh dari dalam—ketika persatuan melemah, integritas luntur, dan kepentingan pribadi mengalahkan kepentingan nasional. Bentuknya beragam, mulai dari disinformasi, polarisasi, radikalisme, korupsi, hingga krisis moral,” tegasnya.
Karena itu, Singgih menilai warisan luhur veteran seperti ketangguhan, kebersamaan dalam keberagaman, kedisiplinan, serta ketulusan membela tanah air—justru makin relevan untuk diterapkan saat ini.
“Nasionalisme pada abad ke-21 tidak lagi dibuktikan dengan mengangkat senjata, melainkan dengan melahirkan inovasi, menjaga kejujuran, memperkuat ekonomi, melestarikan lingkungan, serta memberi manfaat nyata. Prestasi adalah bentuk baru dari patriotisme,” paparnya.
Bagi LDII, nilai-nilai kebangsaan tersebut beriringan dengan ajaran Islam. Prinsip ini menjadi fondasi utama dalam membina warga LDII guna mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) yang profesional, religius, dan berakhlakul karimah.
Sebagai langkah konkret, LDII terus merawat penanaman nilai patriotisme lewat berbagai program strategis, seperti Sekolah Virtual Kebangsaan dan Sarasehan Kebangsaan. Program rutin ini menghadirkan jajaran pemerintah, TNI, Polri, hingga akademisi untuk memperkuat wawasan kebangsaan.
Selain itu, pembinaan karakter juga disalurkan melalui majelis taklim, gerakan kepanduan, serta aksi nyata pengabdian seperti bakti sosial, penanggulangan bencana, dan pelestarian lingkungan yang terangkum dalam delapan bidang pengabdian LDII untuk bangsa.
“Melanjutkan perjuangan veteran di era modern adalah dengan membangun karakter, mempererat persatuan, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memberikan karya terbaik,” terangnya.
Menutup keterangannya, Singgih berpesan agar generasi muda tidak menganggap kemerdekaan sebagai sesuatu yang ‘gratis’ dari sejarah. Kemerdekaan adalah amanah besar yang ditebus dengan darah dan air mata.
“Jika generasi veteran berhasil memenangkan perang untuk merebut kemerdekaan, tugas generasi muda hari ini adalah memenangkan perjuangan melawan kebodohan, kemiskinan, korupsi, dan perpecahan. Cara terbaik menghormati para veteran adalah memastikan cita-cita mereka tetap hidup dalam setiap karya kita,” pungkasnya. Rls.












