LDII Kotabaru Utus Tim Rukyat Hilal Training Teropong di Imah Noong Bandung

Kotabaru — Dewan Pimpinan Daerah Lembaga Dakwah Islam Indonesia (DPD LDII) Kabupaten Kotabaru mengutus Koordinator Tim Rukyat Hilal, Nur Abdul Rozaq, melaksanakan training (pelatihan) secara privat penggunaan teleskop dan observasi astronomi.

Acara berlangsung selama 3 hari pada Kamis, Jum’at dan Senin tanggal 3,4, dan 6 September 2026 di Observatorium Imah Noong, Jl. Pasar Laksana No. 31, RT 02 / RW 12, Desa Wangunsari, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat.

Ketua DPD LDII Kotabaru, Drs. H. Murdianto , M.Si, mengatakan program itu bertujuan untuk meningkatkan kapasitas teknis serta akurasi tim dalam penentuan awal bulan Hijriah, khususnya penetapan Ramadan, Idulfitri, dan Iduladha.

“Peningkatan kompetensi, sangat krusial agar proses pengamatan hilal di daerah dapat memberikan data yang presisi, valid, dan dapat dipertanggungjawabkan dalam Sidang Isbat,” ujar Murdianto.

Ia menegaskan, komitmen organisasi yang ia pimpin dalam mendukung pemerintah serta umat Islam melalui penyediaan sumber daya manusia yang terlatih di bidang hisab dan rukyat.

Sementara itu, Rozaq, satu-satunya tim yang diberi kepercayaan oleh pimpinan ormas keagamaan dimaksud menjelaskan terdapat 2 jenis teropong yang disajikan yakni :

1. Teropong fortable : Teleskop model HScupe 70mm F/8.5 Veetisteel AZ, lengkap dengan Moun Skyhunter, portable AZ GOTO System, GSO 1.25″ Focal Resister 0.5x, dan kamera jenis ZWO AS1462MC.

2. Teropong Full otomatis atau lebih dikenal dengan sebutan smart telescope Merk Seestar S50. Dimana, perangkat yang dikendalikan sepenuhnya melalui aplikasi ponsel atau tablet itu menggabungkan optik teleskop, kamera digital, go-to mount (penggerak otomatis), dan pemrosesan gambar dalam satu perangkat ringkas.

 

Orang yang merupakan Humas LDII setempat mengatakan bahwa selama pelatihan telah mendapatkan materi teori dan praktik meliputi:

1. Pengoperasian Teleskop: Teknik perakitan, kalibrasi, hingga pengarahan posisi teropong berbasis koordinat astronomis.

2. Penggunaan Piranti Lunak Astronomi: Pemanfaatan software pemetaan langit untuk memprediksi ketinggian, posisi, dan visibilitas hilal.

3. Metode Observasi: Teknik pemantauan hilal secara langsung, baik menggunakan metode visual alat bantu maupun kamera astrofotografi. Rls.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *