GENERASINEWSINDONESIA.COM Surakarta – Hujan deras yang mengguyur Kota Surakarta dan sekitarnya sejak Selasa (14/4) sore tak hanya membawa genangan air, tetapi juga menguji kesiapsiagaan para relawan. Saat sebagian warga terlelap beristirahat, anggota SENKOM Rescue justru meningkatkan kewaspadaan, memantau perkembangan situasi secara intensif melalui berbagai kanal komunikasi.
Sejak malam hari, aktivitas pemantauan dilakukan melalui Senkom Digital Communication (SDC), handy talky (HT), serta grup komunikasi berbasis aplikasi seperti WhatsApp dan Telegram. Informasi dihimpun secara real-time untuk memastikan respons cepat terhadap potensi bencana.
Ketua Senkom Surakarta, H. Yusuf Erwansyah, A.Md., menginstruksikan seluruh anggota untuk tetap siaga, khususnya di wilayah yang menjadi langganan banjir.
“Sesuai tagline Senkom, siaga saat aman, hadir saat dibutuhkan, seluruh anggota diminta memantau perkembangan dan siap bergerak membantu masyarakat,” ujarnya.
Berdasarkan laporan pada Rabu (15/4) pukul 08.00 WIB, banjir merendam sejumlah kawasan di Surakarta:
1. Solo Bagian Barat, Kampung Jagalan, Makam haji; kebutuhan logistik dapat dipenuhi secara mandiri oleh warga. Tim Rescue Senkom bergerak membantu proses pembersihan pascabanjir.
2. Solo Bagian Selatan, Kaliwingko ; kondisi ketinggian air mencapai perut orang dewasa dan cenderung meningkat.
3. Teposanan (Baron), kondisi Air mulai masuk ke rumah warga sejak dini hari, memaksa sebagian warga mengungsi ke masjid terdekat.
Luapan air di wilayah Kaliwingko terjadi akibat sungai setempat yang tidak mampu menampung tingginya debit air setelah hujan deras selama beberapa jam. Dalam waktu relatif singkat, air meluap hingga menggenangi permukiman warga dengan arus yang cukup deras.
Jembatan Kaliwingko menjadi salah satu titik kritis yang menunjukkan tingginya tekanan air, memperlihatkan potensi risiko terhadap infrastruktur di sekitar lokasi.
Di tengah kondisi tersebut, warga berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi persoalan banjir yang kerap berulang setiap musim hujan.
“Kami berharap ada normalisasi sungai dan perbaikan infrastruktur. Jangan sampai ini terus terjadi,” ungkap salah satu warga yang enggan disebutkan namanya.
Peristiwa ini kembali menegaskan pentingnya pengelolaan lingkungan dan sistem drainase yang memadai. Faktor seperti sedimentasi, penyempitan alur sungai, serta tingginya intensitas hujan menjadi tantangan yang harus ditangani secara menyeluruh.
Senkom bersama elemen masyarakat lainnya terus berupaya hadir di tengah warga, tidak hanya dalam kondisi darurat, tetapi juga dalam proses pemulihan pascabencana.
Terpantau di balik derasnya hujan dan meluapnya air, ada semangat gotong royong yang tetap menyala. Kesiapsiagaan relawan menjadi bukti bahwa solidaritas sosial masih menjadi kekuatan utama dalam menghadapi bencana. Rls










